“Izinkan aku
mencintaimu denagn caraku sendiri, dan jangan paksa aku untuk mencintaimu. Diam
adalah caraku mencintaimu”
Suara hening menepuk keramaian jiwa-jiwa sang pemimpi. Mengoyak
seluruh kebisingan yang tak pernah berhenti melayang. Hantaman peluru ide-ide
bergantian menusuk pikiran si perajut asa. Mimpinya tetap menggelantung dan
jauh dalam harapannya ia ingin segera mencapainya.
“Li... Ali, sedang apa kau ini? Rupa-rupanya kau sedang termenung,
raut wajahmu gelisah melulu?” tanya sahabat karibnya Umar. “mikir...” jawab Ali
singkat.
Ali dan Umar ialah teman sejawat. Mereka tinggal bersama dalam
sebuah asrama pondok pesantren, yang diasuh atas nama kampus mereka. Mereka
juga sama-sama masih berjuang menempuh cita-citanya.
Di Kampus Ali dan Umar mengambil jurusan yang sama, yakni Sastra
Arab.
“Mar.. aku bingung ini, mengapa akhir-akhir ini aku sering nggak
fokus? Biasanya aku nggak seperti itu...” Tanya Ali. “hmm... mungkin kamu
sedang kecapekan, atau bisa jadi kamu ini lagi kehabisan jatah bulanan.. hehe”.
Goda Umar. “em.. enggak juga sih, tapi kenapa ya...” sambil memikirkan sesuatu.
“aa..!!! kamu sedang mikirin cewek ya...??” tanya Umar. “hadeh, sembrono kamu
Mar...” jawab Ali dan segera meninggalkan Umar yang sedang Ngopi.
Ali memang manusia biasa dan bukan seorang pujangga cinta yang
mencari pasangan hatinya di tepian kata yang bergelumat dengan syahdunya syair
kehidupan saja. Tapi, Ali adalah seorang manusia yang berfikir rasional tentang
nalurinya. Kenyataan berkata benar, memang saat itu Ali sedang memikirkan sayap
hidupnya. Ali yang sendirian itu bisa jadi sedang merindukan penyemangat hati
selain dari sahabatnya.
Ali cukup lama termenung lagi, dia berfikir tentang nasib
perkuliahannya ternyata, kuliahnya belum mencapai semester 7 masih semester 5,
baru setengah perjalanan untuk meraih cita-citanya. Bisa-bisanya berfikir soal
sayap hidup. Disisi lain “Bagaimana dengan orang tuaku?” tanyanya di hati. “Aku
belum mendapatkan kunci emasku untuk menjadikan mereka orang tua terhebat. Telah
susah payah mereka membesarkanku hingga sedewasa ini, tak pantaslah aku
memikirkan cinta. Bagi mereka yang penting anak-anaknya bahagia itu sudah
membuat mereka lega, tapi bagiku sebahagia mereka pasti ada dalam hati mereka
rasa bangga yang ingin mereka dapatkan dari anak-anaknya, entah itu apa”. sambungnya.
Hal ini semakin membuatnya gelisah gundah gulana. Apalagi ketika
dia mengingat masa lalu, tentang susah payahnya orang tua memperjuangkan hidup.
Bukan karena paksaan atau karena kewajiban melainkan rasa kasih sayang
sebaliknya. Walaupun orang tua sering ngotot berbicara kepada anak-anaknya
bahwa “aku ikhlas lahir bathin telah melahirkanmu dan membesarkanmu, bahkan
rasa ikhlas telah melahirkan rasa rela terhadap apapun”, tapi, aku mencoba
melihat binar matanya. Mata yang semula berubah menjadi mata yang penuh
harapan, hati yang ikut gemetaran karena rasa yang tak akan pernah bisa
terungkap lewat apapun. Inilah betapa hebatnya orang tua, anak mana yang tak
bisa menahan derai air mata dan kesepian jiwa ketika merindukan orang tua yang
mungkin jauh dari kita.
Ali adalah anak rantauan. Anak yang yang jauh dari namanya orang
tua. Sia akhirnya tersadar dan terbangun lagi jiwanya. Serasa seperti ditepuk
jiwanya melalui ingatan-ingatan yang sempat lupa. Tentang cinta kini dia simpan jauh lebih
dalam dan lebih mengutamakan tentang mereka orang tuanya dan Sang Khaliq.
*Ibu.. Bapak... aku rindu kalian. Maaf beribu maaf.
Mungkin bulan ini aku tidak bisa pulang dan mungkin sampai tahun depan. Ridhoi
anakmu yang sedang berjihad ini ya, bu.. pak.. do’amu yang sangat aku butuhkan.
Salam rindu buat dek Ais ya bu.. bilang, jangan nakal, belajar yang rajin, dan tetap
semangat kejar cita-cita, susul kakak.. buat bangga kedua orang tua kita. Hehe,
J
Cukup sekian ya bu, pak.. tentang uang sakunya ndak
usah dikirim lagi. Masih banyak malah bulan yang kemarin masih kok, okey.?*
Sepucuk surat meawakili gelisahnya telah ia sampaikan kepada orang
tuanya. Kini ia mulai bersemangat kembali. Tak ada pikiran yang mengganggu dia
lagi yang ada yang indah-indah aja dan pikiran positif. Bismillah, ia
awali kembali aktifitas terbaru dengan menggenggam api semangat dan penuh harap
dengan apa yang dia impikan tempo dulu, yang sampai saat ini masih dan akan
tetap ia ingin perjuangkan.
Keesokannya harinya Ali mengajak Umar untuk sowan kepada Abah Yai
selaku pengasuh asrama pondok pesantrennya, untuk izin belajar di pondok
Tahfidzil Qur’an. Karena yang diharapkan dan dicita-citakan oleh keduanya
adalah menjadi seorang hafidz. Tapi apa daya pula Abah Yai belum meridhoinya
dan beliau dawuh, “sampean kuliah aja dulu sampai tutup, terus ngaji di pondok
dimempengno kaleh di kuataken syariat ibadahe.... baru hafalan jalan boleh....”
Sekilas terdengar di telinga mereka seperti melarang namun, ini
adalah anjuran. Ali dan Umar berfikir dewasa dan menyikapinya dengan legowo.
Untuk cita-cita yang ini Ali dan Umar ikhlas dan berupaya menjalankan anjuran
yang telah disampaikan Abah Yai tersebut.
Dengan sabar dan tlaten akhirnya, perkuliahan Ali dan Umar selesai
juga dan mendapat gelar S-1 Comloude. Mereka sangat bangga dengan gelar yang
tecanang di pundaknya itu. Selesai kuliah, seperti yang didawuhkan Abah Yai
dahulu, Ali dan Umar lakukan.
Dengan penuh keyakinan Ali dan Umar berangkat menuju pondok
Tahfidzil Quran. Atas izin Abah Yai mereka siap menghafal dan siap menjaga
wahyu Allah dengan bijak. Walaupun diperjalanan menghafal banyak sekali
kendala-kendala yangdialami oleh keduanya. Dari mulai keadaan Ayah Ali yang
sering masuk rumah sakit karena penyakitnya sering kambuh bahkan sampai pernah
kejadian Ayah Umar meninggal dunia sebab kecelakaan. Hal ini membuat mereka
resah. Ibu umar merasa sedih dan harus memaksa Umar untuk kembali ke rumah demi
membantu ibunya mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Kini Ali sajalah yang
masih bertahan.
Setelah 3 tahun lamanya, akhirnya selesailah hafalan Ali. Kemudian
dia di Wisuda lalu dia mendapat mandat dari wakil Abah Yai untuk kembali ke
asrama pondok pesantrennya dulu. Ali sedikit bingung mengapa demikian, dia
bertanya-tanya. Dan tak ambil pusing dia berangkat menuju asrama pondoknya dulu
dan membawa bingkisan hadiah untuk Abah Yai atas jasa-jasa yang telah diberikan
olehnya.
Setelah masuk ndalem Ali disuruh masuk ruangan khusus yang
disediakan oleh keluarga Abah Yai, dan anehnya ruangan itu dibatasi oleh satir
yang terbuat dari kain. Ali semakin heran dan bingung. Setelah
berbincang-bincang agak lama Abah Yai langsung berbicara tentang maksud dari
permintaannya tersebut.
“Le, sampean mau ndak nikah sama anakku Neng Yana... ?” tutur
beliau. Ali langsung tersedak, seketika jantung berirama dengan cepat. Ali
shock dan bingung harus berkata seperti apa, “Tapi bah... Abah kan tau sendiri
saya ini bukan golongan dari ningrat”. “nggak apa-apa, nggak ada yang salah.
Sudah aku pikir matang-matang dengan segala ucapanku tadi Li, yang pada intinya
sampean mu tidak?” jelas Abah Yai.
Ali pun tidak bisa berkata-kata apa selain “Inggeh abah....”. – sekian
JUDUL : “AKU DAN DENGAN KEHATIANKU.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar